
(Foto oleh Erlangga Wisnu Anggara)
PONOROGO – Kedelai merupakan tanaman kacang-kacangan yang bisa dibuat menjad berbagai olahan, seperti susu kedelai, dan juga tempe. Tempe merupakan hasil fermentasi dari kedelai yang sudah diolah sedemikian rupa yang akhirnya menjadi tempe tersebut. Tempe sendiri memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dengan makanan lainnya, sepeti protein yang lebih tinggi dari daging sapi, kalsium yang setara dengan susu sapi, juga bisa sebagai antioksidan, dan masih banyak lagi. Disamping itu semua, pada saat proses pembuatan tempe juga menghasilkan limbah yang harus di tangani dengan tepat.
Ibu Puji warga desa Surodikraman, Ponorogo, merupakan seorang pembuat kripik tempe yang sudah sejak 2005 mulai merintis usaha tersebut. Setiap harinya beliau memproduksi minimal 1,5 kg kedelai yang akan dijadikan tempe yang nantinya akan di olah menjadi kripik tempe. Pada saat pengolahan kedelai, beliau merasa prihatin dengan kulit ari dari kedelai yang hanya jadi sampah untuk dibuang. Kemudian Ibu Puji mendapatkan ide untuk menjadikan sampah kulit ari tersebut menjadi pupuk kompos yang berguna untuk tanaman. Berbekal tabung komposter yang Bu Puji dapatkan dari pemerintah, beliau mulai membuat pupuk kompos dari kulit ari kedelai tersebut.
“Dulu saya dapat bantuan dari pemerintah berupa tabung komposter yang kapasitasnya 10 liter, lalu sampah kulit ari dari kedelai itu saya masukan kedalam tabung komposter, dan setelah 2 tahun sudah menjadi pupuk yang siap digunakan.” Ujar Bu Puji.
Artikel Oleh Erlangga Wisnu Anggara

Tinggalkan Balasan