Toyomarto, Ngbel – Permasalahan petani kopi apakah teratasi? Pohon kopi di Desa Pupus Ngebel kekurangan asupan. Wilayah yang sudah dikenal dengan pengahasil kopi terbaik dan terbanyak ini ternyata masih berkutik pada kendala. Permasalahan pupuk masih terus menjadi pengahalang utama, meskipun hasilnya lebih banyak dari tempat lain namun masih belum bisa menghadapi pasar yang lebih besar “dari petani tidak kurang dari 50 ton tiap panen, namun untuk memehi pasar yang besar petani masih merasa kesulitan” Ujar Mujiono ketua kelompok tani Wilis Maju.
Lahan yang luas bukan satunya-satunya penentu banyaknya hasil panen bagi petani, dengan hasil itu kopi bukan menjadi mata pencaharian utama. Demi mendongkrak perekonomian keluarga petani kopi juga bekerja sebegai peternak kambing dan memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk. Pemupukan yang dilakukan oleh petani hanya mengandalkan pupuk kandang dari ternak yang dimiliki, namun hasil dari pupuk kandang dirasa masih belum cukup untuk mengahasilkan biji kopi yang lebih banyak.
Ketakutan petani untuk menerima tawaran dari pasar besar masih dirasa hingga saat ini. Banyaknya tawaran sebagai penyuplai untuk cafee masih belum diiyakan. Pasalnya permintaan konsumen untuk memberikan biji kopi merah terbaik masih belum mencukupi, karena keterbatasan sumber daya manusia, dan juga hasil yang belum maksimal. Masyarakat saat ini berharap ada bantuan berupa pupuk maupun bibit agar petani bisa lebih berani untuk menyuplai pasar yang bisa meningkatkan ekomoni masyarakat. (Artikel: Ade Tri Arumsari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilindungi Oleh
Shield Security