
PONOROGO – Tas yang dianyam dengan bahan dasar plastik saat ini banyak diburu pembeli. Tas anyaman dinilai lebih kuat jika dibandingkan dengan tas buatan pabrik.
Salah satu pengrajin tas di Desa Glinggang, bu Evi mengungkapkan, sudah berjalan 5 tahun dalam menjalankan kerajinannya, namun baru berjalan lancar selama 3 tahun terakhir.
Tas anyaman Bu Evi berbahan dasar plastik. Dalam proses pembuatannya hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk membuat satu tas. “Kalau buat dari nol kemudian membuat bokongan, dan nganyam perlu waktu setengah jam, tapi kalau mulai dari bokongan, satu jam itu bisa bikin tiga” ungkap bu Evi.
Bu Evi menjual produk tas anyamannya melalui media sosial dan platform jual beli online, dengan dibantu oleh satu orang kerabatnya. Beliau membuat tas anyaman berdasarkan pesanan pelanggan, dan bisa dipesan sesuai keinginan pelanggan. Dengan berbagai ukuran, mulai dari mini, kecil, tanggung, hingga ukuran jumbo tas anyaman dijual dengan harga berbeda, namun tetap dengan bahan dan kualitas yang sama.
Banyak pembeli yang memesan tas untuk dijual kembali dan ada pula yang untuk souvenir hajatan. Untuk pembeli yang memesan tas untuk souvenir hajatan, kemudian masih tersisa atau tidak terpakai, bu Evi mau menerima kembali tas yang masih tersisa tersebut.
Dalam satu bulan, bu Evi bisa mendapatkan keuntungan hingga jutaan rupiah, bergantung pada jumlah pesanan pembeli. Selain itu, pada saat menjelang bulan ramadhan pesanan tas bu Evi naik hingga tiga kali lipat.

Tinggalkan Balasan