
Ponorogo – Tembakau, mempunyai peranan sebagai salah satu pendapatan di Indonesia. Tembakau adalah tumbuhan yang kualitasnya akan naik apabila jarang terkena air hujan. Semakin bagus kualitasnya, maka semakin mahal harganya.
Hal ini kemudian dilirik oleh Sobarun, warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, yang berprofesi sebagai petani. Terinspirasi oleh kunjungan kelompok tani ke Kudus, Jawa Tengah, membuat beliau yang sudah berkecimpung dalam dunia tanam menanam padi dan palawija mulai melirik usaha ini.
Bagai gayung bersambut, ia kemudian dikenalkan kepada petugas lapangan pengepul tembakau yang memasok ke salah satu pabrik rokok yang cukup besar di Indonesia oleh salah satu saudaranya. Petugas pengepul tembakau itu, langsung memberikan tawaran berupa kontrak kerja sama kepada Sobarun, sebagai ketua kelompok tani di Desa Watu Bonang tersebut.
“Dari bibit, hingga pupuk, sudah ada ketentuannya di kontrak mbak,” terang Sobarun pada kami.
Awal tanam, Sobarun mengaku menanam di lahan yang tidak terlalu luas, sebagai percobaan. Bahkan meskipun ia telah mensosialisasikan kepada anggota kelompok taninya, tidak ada yang berani mencoba dan mengambil resiko. Akan tetapi, ternyata setelah diperiksa hasil tembakau Desa Watu Bonang terbaik. Apa yang ditanam maka itulah yang dituai, Sobarun berhasil mengumpulkan 25 juta rupiah dari 5 kali tranksaksi setor tembakau kepada petugas lapangan pengepul.
Sayangnya, kekeringan kala musim kemarau kerap kali menurunkan kualitas daun tembakau. Akan tetapi, Pemerintah Kabupaten Ponorogo bertindak cepat dengan memberikan pompa yang akan digunakan kelompok taninya di masa tanam mendatang.
“Meskipun kekeringan, karena saya sudah mendapat bantuan dari PemKab Ponorogo, semoga pompanya dapat membantu mengairi lahan tembakau kami semua,” terang Sobarun.
(Artikel oleh Zharifah Ardiana)

Tinggalkan Balasan