
Ponorogo– Pada tahun 2000-an, sebuah desa di Ponorogo dikenal oleh hampir seluruh warga Negara Indonesia. Desa itu bernama Desa Karangpatihan, atau yang lebih dikenal sebagai Desa Idiot. Desa yang masuk wilayah Kecamatan Balong ini cukup terkenal bahkan hingga ke negara tetangga dikarenakan sebuah keunikannya.
Banyak warga Desa Karangpatihan berstatus tuna grahita, ada yang ringan hingga yang berat. Menurut Eka Mulyadi, selaku Kepala Desa Karangpatihan, banyaknya warga tuna grahita karena jaman dahulu, desa karangpatihan mengalami kekurangan secara ekonomi, sehingga banyak anak kurang gizi, dan tuna grahita merupakan penyakit genetik. Mendapat julukan desa idiot bukanlah hal yang membanggakan, meskipun dengan terkenalnya Desa Karangpatihan membuat desa tersebut sering diberi bantuan, hal itu justru membuat ketergantungan.
“Saya dan Pak Samuji hanya berpikir bagaimana cara mandiri, agar mereka mempunyai harapan untuk terlepas dari ketergantungan mengharap bantuan dari setiap tamu yang datang ke Karangpatihan,” terang Eka.
Maka Eka Mulyadi membangun Rumah Harapan pada 2013 secara swadaya bersama warga desa di dekat rumahnya. Rumah Harapan adalah tempat pelatihan aneka ketrampilan, seperti membuat kerajinan, beternak, dan menanam.
Waktu berjalan dan Tuhan akan merubah nasib suatu kaum yang mau berusaha, pada 2015 Rumah Harapa pindah 100 meter dari rumah Eka, dan baru pada tahun 2019, Rumah Harapan mendapatkan bantuan dalam bentuk balai pertemuan di depan Rumah Harapan.
“Tujuannya adalah merubah stigma desa idiot. Rumah Harapan merupakan harapan bagi kami warga satu desa bahwa mereka pada akhirnya dapat secara mandiri menghasilkan sesuatu,” tambah Kepala Desa Karagpatihan ini.
(Artikel Zharifah Ardiana)

Tinggalkan Balasan