
Ponorogo– Di depan pintu masuk sebuah rumah sangat wajar apabila kita menemukan keset atau pengesat kaki yang berfungsi membersihkan kaki kita sebelum masuk ke dalam rumah. Akan tetapi tidak banyak yang tahu bahwa kebanyakan keset yang tersedia di toko maupun penjual keliling itu adalah karya kewirausahaan dari saudara-saudara penyandang tuna grahita di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong.
Samuji, Ketua dari Rumah Pelatihan Ketrampilan warga tuna grahita Desa Karangpatihan membagikan kepada kami bagaimana keset tersebut dibuat, bahkan kami bisa ikut belajar membuat keset, ini adalah salah satu wisata edukasi sosial yang ada di Ponorogo.
“Pertama kita beli limbah dari konveksi atau pabrik pakaian atau kain berupa perca berbentuk persegi panjang, atau dari baksos, intinya bahan dari area Ponorogo,” terang Samuji.
Lalu dibuat kuncian dasar dan kemudian mirip seperti proses anyaman, kain perca dimasukkan secara selang-seling sesuai pola atau warna yang diinginkan, kurang lebih satu keset menghabiskan 1 kg kain perca seharga dua ribu rupiah lalu dikunci.
Usaha pelatihan membuat keset sejak 2013 ini membuahkan hasil, yaitu mereka, para penyandang tuna grahita dapat membuat keset tanpa bantuan pendamping, mereka jadi lebih mandiri. Usaha ini juga membuat mereka mempunya pemasukkan sekitar Rp. 8.000, per keset yang mereka buat.
Satu-satunya hambatan hanyalah kemauan mereka, biasanya tiap orang berhasil membuat 1,5 keset lalu akan dilanjutkan temannya. Akan tetapi, apabila mereka sedang tidak mau berarti dalam sehari tidak ada produksi keset. Ya, keset seharga Rp. 15.000, ini dikurangi upah dan bahan sisanya untuk biaya kas dan operasional rumah harapan.
“Kasnya dipakai gotong royong mbak, misal ada rumah warga binaan rusak, ya kami perbaiki memakai kas, saling gotong royong,” terang Samuji.
(Artikel oleh Isna Hamidah)

Tinggalkan Balasan