
Ponorogo – Sebagian warga Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo masih melestarikan warisan leluhurnya yaitu membuat anyaman topi bambu atau biasa dikenal caping. Warga tidak serta-merta membuat dari awal hingga akhir jadi ada yang membuat bambu menjadi tipis-tipis, ada yang membuat setengah jadi, ada pula yang membentuk bahan setengah jadi menjadi caping siap cat dan adapun yang menganyam blengker.
Ibu Siami adalah salah satu warga yang masih melestarikan kerajinan anyaman bambu.
“Saya beli yang sudah setengah jadi lalu saya membentuknya menjadi buyuk dan plentis lalu saya jual ke pengepul untuk di cat”, ujar Ibu Siami (65 tahun) salah satu pengrajin.
“Kemudian ada lagi yang menganyam pinggiran blengker untuk satu blengker Rp. 1000 memang tahapannya rumit dan keuntungannya pun sedikit”, imbuhnya.
Ibu Siami sehari dapat membuat buyuk dan plentis sejumlah 20 biji untuk hargnya buyuk yang sudah jadi Rp. 12.000 dan plentis seharga Rp. 6000.
Sementara itu Ibu Jeminah (th) adalah salah satu warga yang menganyam caping setengah jadi untuk ia jual lagi kepada pengrajin lainnya.
“Saya membeli bambu tipis-tipis bahan untuk anyaman ini dari adek saya, lalu saya menganyamnya setengah jadi lalu saya jual” ungkap Ibu Jeminah.
“Anyaman setengah jadi ini per biji saya jual hanya Rp. 2000”, jelasnya.
Proses membuat caping dimulai dari pemotongan bambu dan membaginya menjadi beberapa dengan bagian tipis-tipis, lalu dianyam membentuk seperti kerucut setalah itu di cetak membentuk penutup kepala dan terakhir membuat blengker.

Tinggalkan Balasan