
Ponorogo– Bagi pecinta hewan peliharaan, tentunya yang menjadi masalah dalam perawatan hewan peliharaan adalah kotorannya. Selain bau, kotoran hewan peliharaan cenderung menjadi limbah dan tidak jarang dibuang secara sembarangan.
Hal ini tidak dirasakan oleh Mulyono warga Desa Karangan yang sehari-hari berprofesi sebagai peternak kelinci. Kelinci yang sebenarnya merupakan kelinci pedaging yang mana juga bisa dijadikan hewan peliharaan. Peternakan kelinci yang ia bangun sejak dua tahun lalu, sudah cukup besar dengan lebih dari 30 ekor kelinci.
Cepatnya perkembangbiakan kelinci dan mahalnya harga daging kelinci juga menambahkan minat Mulyono dalam beternak kelinci. Bahkan, ia berencana membuat Kampung Kelinci Karangan. Kampung kelinci ingin ia bangun untuk memajukan potensi desanya.
Akan tetapi, banyaknya limbah kotoran kelinci baik padat maupun cair sempat jadi masalah tersendiri. Selain bau yang ditimbulkan, banyaknya jumlah kotoran juga membuat bingung Mulyono saat awal beternak kelinci.
Oleh karena itu, dengan bantuan internet, ia mulai memanfaatkan limbah kotoran kelinci sebagai pupuk yang dapat diperjualbelikan secara online maupun offline, dengan kisaran Rp.15.000,- hingga Rp.20.000,- per karung untuk pupuk padat dan perliter untuk pupuk cair.
Pupuknya sangat mudah proses pengolahannya, cukup untuk limbah padat dikeringkan secara alami dalam suhu ruang, dan untuk cair cukup dikumpulkan dalam tadah lalu ditambah zat-zat buatan untuk pupuk seperti E4 dan sejenisnya.
“Kotorannya dulu banyak mbak, dan bingung mau dibuang kemana, lalu saya lihat di internet. Sekarang saya jual pupuknya untuk kebun-kebun warga desa maupun orang lain. Pupuk ini bagus buat kebun pisang,” terang Mulyono kepada kami.
Lanjutnya, Mulyono percaya bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, maka dengan memanfaatkan limbah kotoran kelinci sebagai pupuk maka ia menjaga lingkungan tetap bersih.
(Artikel oleh Isna Hamidah)

Tinggalkan Balasan