
Proses pembuatan tusuk sate tidaklah rumit. Bambu yang masih berukuran segalah, dipotong kecil dan panjang secara manual lalu dipotong menggunakan mesin dengan ukuran 23cm, 25 cm dan 30 cm tergantung pesanan. Joko susilo mengaku sehari bisa memproduksi setengah jadi sekitar 6-7 kg. Selain tusuk sate ia juga menerima berbagai macam tusuk lainya seperti pentol goreng, tempura, tusuk sate tahu dan lain-lain. Untuk harga semua jenis tusuk sama Rp. 10.000 per kg.
“Saya mempunyai prinsip dalam menjalankan sebuah usaha yang dibutuhkan hanya ketlatenan dan kualitas yang terpenting,” ujar Joko Susilo.
Dalam pemasaranya Joko Susilo memanfaatkan media sosial untuk promosi tusuk satenya. Selain itu juga banyak tengkulak yang banyak memesan kepadanya. Ia mengaku mayoritas pembelinya dari luar daerah seperti Magetan dan Madiun

Tinggalkan Balasan