Membatik salah satu kegiatan rutin yang dilakukan para tuna grahita di rumah harapan desa karangpatihan. (Foto oleh Isna N. Hamidah)

Ponorogo– Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh Unesco, hingga diciptakannya hari batik nasional. Batik sendiri juga memiliki berbagai macam pola dan filosofinya, juga memiliki nilai seni tersendiri. Mulai dari pola tumbuhan yang berarti kesuburan, garuda yang berarti ilmu pengetahuan, hingga merak yang berarti reyog sebagai identitas Kabupaten Ponorogo.
Batik Ciprat adalah salah satu batik asli Ponorogo, tepatnya di Desa Karangpatihan yang pada awal tahun 2000an biasa disebut desa idiot. Terletak di Kecamatan Balong, Perbatasan dengan Kecamatan Jambon. Batik Ciprat mempunyai banyak keistimewaan.
“Batik ini yang buat warga tuna grahita ringan hingga sedang, didampingi oleh pendamping yang sudah tersertifikasi,” terang Samuji, ketua Rumah Harapan, tempat pelatihan batik ciprat.
Batik ini terbuat Kain Primisima putih yang dibentangkan lalu dipercikkan warna-warni atau di cat dengan kuas pada kain tersebut. Pewarnaannya hanya memakai Remasol, lalu warna dikunci dengan water glass, tunggu hingga kering, lalu dijemur, dicuci, dan direbus dengan warna dasar.
“Kalau sesuai pesanan atau pakai motif, kita mendampingi mereka untuk memakai kuas dan membuat motif, nanti mereka meniru, apabila hanya percikan warna, itu ajang mereka berekspresi. Nanti warna dasarnya rata-rata hitam” terang Samuji.
Selain batik ciprat (percik) dan batik lukis (dengan kuas), Rumah Harapan juga menerima pesanan batik canting yang akan dikerjakan oleh pendamping warga tuna grahita dan Samuji sebagai Ketua Rumah Harapan sekaligus penerima pesanan. Mulai dari seragam, logo, hingga kain selendang untuk oleh-oleh dengan motif khusus bisa dikerjakan dengan baik.
Sehelai kain dengan ukuran kurang lebih 200×100 meter dihargai mulai dari Rp.130.000. harga tersebut untuk batik ciprat, harga semakin mahal untuk batik lukis, kombinasi, serta canting. Selain wisata edukasi, batik ciprat dapat dijadikan oleh-oleh khas Ponorogo.
(Artikel oleh Zharifah Ardiana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilindungi Oleh
Shield Security