
Ponorogo – Telur asin merupakan satu olahan telur bebek yang diasinkan. Kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke Dukuh Simo, Desa Jenangan, Ponorogo tanpa membeli telur asin. Tafsir (31 tahun) adalah salah seorang warga Desa Jenangan yang 3 tahun silam memulai usaha bisnis telur asin hingga saat ini, usaha yang digelutinya sendiri tanpa mempunyai karyawan. Tafsir tak hanya memproduksi telur asin, tetapi juga memelihara kurang lebih 200 bebek yang menghasilkan telur. Dari ratusan bebek yang dipeliharanya, Tafsir setiap harinya bisa mampu memanen hingga 75-100 telur bebek. Usaha ini awalnya hanya ikut-ikutan temanya saja yang dilakukan oleh orang tuanya, lalu dilanjutkan oleh Tafsir.
“Awalnya saya hanya memeliharanya saja, tiap hari memberi makan dan memberi perawatan khusus seperti tempat airnya harus bersih tiap hari, “ungkap Tafsir.
Proses pembuatanya cukup lama. Dengan pemilihan telur yang berwarna kebiruan dan tidak retak. Setelah itu dicuci bersih hingga pori-pori telur dibuka dengan tujuan agar garam meresap sempurna lalu ditirisakan. Lalu telur dibaluri tanah dari batu bata yang sudah dihancurkan dan dicampur dengan abu gosok, garam dan sedikit air. Proses pemeramanya selama 10 hari hingga tanahnya mengeras untuk rasa yang pas.
Dalam pemasaranya Tafsir memasarkan telur asinya di sekitar wilayah Kota Ponorogo saja, seperti di swalayan dan kantin-kantin sekolah. Tafsir juga melayani pesanan dari promosinya melalui media sosialnya. Dengan harga jual per butirnya Rp 3.000,-. Telur asin memiliki ketahanan yang lebih lama dengan suhu ruang normal, bisa bertahan hingga satu minggu.
(Artikel Oleh Salsa Okta B.)

Tinggalkan Balasan