Search by category:
NEWS

Taman Edukasi Islam Terpadu di Ponorogo

Taman Edukasi Islam Terpadu di Dusun Bogem, Sampung, Ponorogo. (Foto oleh Zharifah Ardiana)

Ponorogo – Sebagai Kabupaten Ponorogo yang mempunyai slogan, “menuju Ponorogo yang berbudaya dan religius” tentu warga maupun wisatawan sudah tidak asing dengan istilah Ponorogo Kota Santri, mengingat banyakya pesantren yang berdiri di Ponorogo.
Akan tetapi, hal unik dapat anda temukan di Dusun Bogem, Desa Sampung yang masuk wilayah Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo. Di sana terdapat Taman Edukasi Islam Terpadu. Gapura masuknya sekitar 500 meter dari Gunung Mangge, yang masuk wilayah Kecamatan Sukorejo, Desa Sidorejo.
Taman edukasi ini meliputi Taman Kanak-Kanak Pesantren Sabillul Muttaqien (Tarbiyatul Athfal PSM), Madrasah Ibtidaiyah (MIN Bogem Sampung), Madrasah Tsanawiyah (MTSn Sampung Ponorogo), dan Masjid Bogem. Secara sepintas, kawasan ini layaknya kawasan syar’I pada umumnya. Akan tetapi, setelah berbincang dengan Duryatin, Ketua Yayasan Pondok Sabillul Muttaqien (PSM), akan terdapat perbedaan mencolok.
Pondok yang berdiri sejak tahun 1948 ini pertama kali didirikan oleh K.H. Imam Subartini, dalam sistem pendidikannya, pondok mengedepankan agama dan didampingi oleh teknologi. Hal unik lain adalah tidak ada sistem pemondokkan atau pesantren yang biasa hadir di pondok pesantren di Ponorogo.
Pondok Sabillul Muttaqien tidak ada pemondokkan, akan tetapi, diganti dengan pengajaran agama sejak selepas magrib hingga selepas isya. Hal ini selain karena sistem full day school, karena adanya moderinisasi oleh pendiri pondok, diberi nama Sekolah Rakyat Islam, jadi memakai kurikulum biasa, berbasis Islam.
Pada tahun 1967 Madrasah Ibtidaiyah PSM menjadi MI Negeri. Kemudian dilanjutkan pada 1970 pendirian Madrasah Tsanawiyah PSM, yang sekarang berganti nama menjadi MTSn Sampung Ponorogo.
“Alhamdulillah, sekarang total santri atau murid di sini sudah mencapai 94 murid TA, 340-an untuk murid MIN, dan sekitar 400 santri untuk MTsN. Jadi total sekitar 800 murid,” terang Duryatin.
(Artikel oleh Dewi Bela)

Post Comment