Monumen Sang Presiden

Tingkatkan Literasi Media, Cendekia dalam Berkomunikasi, dan Momen Bahagia Bersama Kami.

Monumen Sang Presiden

9 December 2019 NEWS 0
Monumen Bukit Soeharto salah satu tempat wisata sejarah yang berlokasi di atas perbukitan kecamatan Badegan. (Foto oleh Dewi Bela)

Ponorogo – Bagi anda yang terbiasa menuju Provisi Jawa Tengah melewati Kecamatan Badegan, tepatnya Desa Biting, Kabupaten Ponorogo, saat ini anda akan disambut gapura bertuliskan Bukit Monumen Soeharto. Apabila anda naik ke atas sana, anda akan disuguhi pemandangan Kecamatan Badegan yang berupa sungai, pemukiman, serta sawah dan ladang nan hijau yang menyejukkan mata.
Berada sekitar 300 meter dari Taman Wisata Kucur, Bukit Soeharto mempunyai monumen yang ditandangani oleh Presiden ke-2 RI, Soeharto, pada tahun 1978. Monumen tersebut terletak di puncak bukit yang dapat ditempuh tiga hingga lima menit berjalan kaki dari bawah ke atas puncak bukit.
Di puncak bukit anda akan menemukan satu monumen bertanda tangan langsung Presiden Soeharto, yang sayangnya sudah memerlukan pemugaran. Selain itu di atas puncak bukit terdapat satu gazebo, satu warung kopi yang buka saat malam hari, dan tempat minum kopi sekaligus dua tempat swafoto.
Keunikkan lain dari tempat ini adalah air yang berada di atas bukit. Air yang ditampung di atas bukit adalah air yang berasal dari Mata Air Kucur yang dialirkan melalui ratusan pipa pvc yang setiap hari dipantau keamanannya.
“Kita setiap hari naik ke atas, ke mata air sambil cek pipa satu per satu,” terang Wahyu, yang tergabung bersama 29 anggota lain dalam Pengelola Bukit Soeharto (PBS).
Saat malam Bukit Soeharto mempunyai kenampakkan alam yang unik, lampu-lampu di pemukiman warga tampak seperti Taman Bintang yang berada di Yogyakarta. Di Bukit Soeharto rencananya akan dikelola agar menjadi lebih layak. Sayangnya Wahyu menjelaskan kurangnya perhatian Pemerintah Kabupaten kepada potensi wisata di daerah barat Ponorogo ini, Hal lain yang perlu diperhatikan bagi para pengunjung untuk senantiasa yaitu untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar agar tetap nyaman dikunjungi.
“Kendala kita dana, kita masih swadaya masyarakat yang ingin perekonomian terangkat. Jadi proses pembangunan berjalan lambat. Selain itu mengumpulkan pengelola lain dan menyamakan pendapat, akan tetapi kalau dijalani dengan ikhlas katanya dapat pahala,” terang Wahyu sambil sesekali bercanda.
(Artikel oleh Isna N. Hamidah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.